Senin, 08 Agustus 2016

Quo Vadis Tayangan Televisi Indonesia

(Refleksi sesaat setelah diskusi IBI edisi Jumat, 5 Agustus 2016)

Oleh: Marlaf Sucipto

Televisi sebagai media massa, memiliki fungsi: informatif, hiburan, dan alat kontrol sosial. Tapi yang dominan, justru dalam hal hiburan, itu pun rata-rata, tontonan itu tidak layak dan tidak baik dijadikan tuntunan. Layak, saya menggukurnya dari tiadanya penjelasan, spesifikasi tontonan itu untuk siapa. Anak-anak, remaja, dan dewasa. Sedangkan ketidakbaikan tontonan itu, saya mengukurnya dari konten tayangan yang ada, selain iklan yang menjejali alam bawah sadar agar berprilaku konsumeristik, juga konten tayangan seperti sinetron, yang rata-rata menyajikan kegemilangan di atas kemalasan. Seakan, kehadiran sinetron, turut memperteguh gaya hidup glomour, tampil tidak apa adanya, dan menjadikan manusia Indonesia untuk memusat ke Jakarta. Seakan, Jakarta menawarkan kesejahteraan hidup sebagaimana yang ditayangkan oleh, rata-rata, sinetron-sinetron televisi itu.

Sabtu, 04 Juni 2016

Konsep Hukum Sebagai Alat dan Sarana Bagi Masyarakat[1]

 Oleh: Alfin Law[2]

Dalam suatu meteri yang diperbincangkan tentang substansi hukum, tentu banyak pemahaman yang berbeda dalam mengartikan apa yang menjadi  isi sebenarnya dari hukum itu sendiri. Bahwa, sebagian pelaku hukum mengartikan hukum secara parsial semata, di mana hukum hanya dipandang sebagai hukum normatif saja yang menafikan dari sisi falsafah dan sosiologis. Sehingga hukum tersebut menjadi hukum yang memihak kepada mereka yang cenderung politis.  Secara faktual tidak bisa dipungkiri terdapat resistensi terhadap produk-produk hukum, sehingga keberlakuannya secara empiris tidak bekerja secara maksimal dan jelas bukan merupakan produk hukum yang baik.

Jumat, 27 Mei 2016

MERAWAT ISLAM NUSANTARA, MENJAGA MASA DEPAN ISLAM[1]

Oleh: Masduri[2]

ABSTRAK
Islam Nusantara merupakan gagasan dan gerakan pemikiran NU yang dinamis dan progresif. Bahkan jauh sebelum NU didirikan, Islam Nusantara telah mengakar dan menjadi bagian dari nilai-nilai keislaman yang menyejarah dalam tradisi intelektual ulama Islam klasik. Karena itu, upaya peneguhan Islam Nusantara sebagai basis gagasan dan inspirasi peradaban dunia bukan merupakan sesuatu yang berlebihan. Karena keberadaan Islam Nusantara sebagai konsepsi pemikiran ala NU, telah terbuki mampu menghadirkan dunia keislaman yang lebih damai, moderat, dan mengedepankan penghargaan yang tinggi terhadap segala bentuk keragaman.
Di tengah persoalan dunia yang semakin kompleks, seperti gelombang besar gerakan terorisme, gerakan masif  khilafah Islamiyah, arus globalisasi budaya, tersisihnya politik kesejahteraan, dan hilangnya humanisme transendental, NU tentu harus tampil di garda depan sebagai ormas terbesar di Indonesia yang mampu menyuguhkan alternatif melalui basis tradisi Islam Nusantara, sehingga misi besar Islam sebagai agama rahmatal lil’alamin dapat terealisasi, agar umat Islam benar-benar menjadi khaira ummah seperti ditegaskan oleh Allah SWT. dalam al-Quran.