Jumat, 10 April 2015

Islam dan Kebudayaan Nusantara

Oleh: Marlaf Sucipto
Indonesia Belajar Institute (IBI) pada Jumat (10/4) berdiskusi tentang “Islam dan Kebudayaan Nusantara”. Menghadirkan Ahmad Siddiq sebagai pembicara utama. Tulisan ini lahir karena Cak Siddiq—sapaan akrab Ahmad Siddiq, tidak menyediakan tulisan dari sekian gagasannya di forum diskusi yang biasa dihelat setiap minggu ini.

Cak Siddiq memulai diskusi dengan menjelaskan cikal-bakal lahirnya Piagam Madinah di Yastrib yang pernah diinisiasi oleh Muhammad sebagai Rosulallah—utusan Allah/Tuhan. Piagam Madinah, sebagaimana dijelaskan Cak Siddiq, adalah sebuah kesepakatan yang merangkul keberagaman saat itu, bukan memaksa keseragaman. Piagam Madinah memuat semacam perlindungan atas golongan minoritas dalam mengerjakan hal-hal yang diyakini baik, benar, dan indah. Piagam Madinah semacam deklarasi untuk hidup damai, tentram, berprikemanusiaan, berprikeadilan di tengah keragaman kultur, budaya, agama, dan etnis waktu itu. Piagam Madinah mencerminkan terciptanya masyarakat madani; rukun, tentram, sejahtera di bawah kepemimpinan Muhammad sebagai khalifah.

Jumat, 13 Maret 2015

Supersemar

Oleh: Marlaf Sucipto
Indonesia Belajar Institute (IBI) pada Jumat, 13 Maret 2015, mendiskusikan tentang motif politik dibalik munculnya Surat Perintah Sebelas Maret—Supersemar. Supersemar yang lahir pada 1966 tersebut patut dicurigai sebagai kudeta terselubung untuk menumbangkan Soekarno sebagai presiden. Mengapa Soekarno harus ditumbangkan? Karena Soekarno memiliki keterhubungan yang kuat dengan orang dan ideologi komunis. Yang mana, setahun sebelumnya, 1965, orang-orang yang di-cap komunis dibasmi dari republik karena dituduh sebagai penyakit. Versi Asvi Warman Adam—sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hampir lima juta rakyat Indonesia dieksekusi mati tanpa melalui proses pengadilan. Terkait hal ini, Joshua Oppenheimer (40), warga negara Amerika yang tinggal di Denmark menampilkan film dokumenter: “The Act Of Killing; Jagal, dan “The Look of Silent; Senyap”

Senin, 15 Desember 2014

Dilema Ekonomi Islam: Ikhtiyar Menapak Syistem Ekonomi Nasional

Oleh: M. Afif Zainurraziqien[1]
                Ketika kita mempelajari konsep ekonomi di suatu negara, terbesit pertanyaan di dalam fikiran kita. “Mengapa sebagian negara menjadi kaya, sementara sebagian yang lainnya miskin?”. Jawaban secara spekulatif pasti dapat kita jawab, namun perlu kiranya kita flasback pada tahun 1776 ketika Adam Smith menerbitkan buku termasyurnya yang berjudul An Inquiry into the Wealth of Nations. Di dalam bukunya tersebut menjelaskan secara rinci bagaimana negara dapat mencapai suatu kekayaan dalam ekonomi.
                Sejak abad ke 18, para ahli ekonomi telah menghasilkan berbagai penjelasan secara menyeluruh tentang mengapa perekonomian tumbuh dan menjadi makmur. Spesialisasi, perkembangan tekhnologi dan pembentukan modal (capital formation) adalah beberapa faktor yang telah dianalisis oleh Smith. Selain itu Smith juga menjelaskan bagaimana seharusnya negara miskin bisa mengatasi ’keterpurukan’-nya, salah satunya mengenai keadaan pasar yang harus berjalan seimbang antara produksi, distribusi dan konsumsi, mengenai seharusnya lembaga-lembaga bekerja efisien, serta mengenai jarak geografis suatu negara. Selain mengatasi ‘keterpurukan’, Smith juga mengatakan negara tersebut bahkan dapat menjadi pemimpin karena keunggulan produktivitasnya.