TEMA Orientasi
Cinta Akademik dan Almamater (Oscaar) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN
Sunan Ampel Surabaya diekspos banyak media massa dan diperbincangkan di
berbagai media sosial. Mulanya sederhana, pada acara Oscaar tersebut,
teman-teman Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel
Surabaya mengangkat tema Tuhan Membusuk: Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju
Islam Kosmopolitan. Kemudian, media ramai mengekspos berita tersebut.
Bahkan, para pengguna media sosial ramai berdiskusi –lebih tepatnya saling
hujat– antara yang pro dan kontra. Bagi civitas academika di Fakultas
Ushuluddin dan Filsafat, bahkan bagi akademisi di lingkungan perguruan tinggi
Islam dan filsafat, tema tersebut merupakan hal biasa. Tetapi, ketika dilempar
ke publik, apalagi dibesar-besarkan oleh media, itu menjadi hal yang luar
biasa. Sebab, tema tersebut merupakan konsumsi akademisi di dunia kampus Islam
dan filsafat, yang pada dasarnya hanya kritik keberagamaan agar umat beragama
tidak kehilangan spirit nilainya dalam kehidupan.
Jumat, 05 September 2014
Membumikan Nilai-Nilai Ketuhanan dan Relasinya di Islam Nusantara
Oleh: Masnida al-Shiraj[1]
Di era globalisasi ini dunia
Islam mengalami banyak problem, di antaranya adalah mengikisnya nilai-nilai
ketuhanan yang ada pada diri manusia sehingga pada kenyataannya dengan
mengatasnamakan Tuhan semuanya bisa berbalik 180 derajat. Misalnya pembunuhan
yang dilakukan oleh sebagian orang yang menyebabkan pertumpahan darah di mana-mana
tidak bisa dihindari. Pengeroyokan yang dilakukan oleh sebagian golongan
dikarenakan ia tidak memiliki pandangan yang sama dengan dirinya juga sering
terjadi. Padahal esensi dari ajaran Tuhan yang ter-elaborasi dalam Islam tidak
mengajarkan kita seperti itu. Sunguh ironis sekali ketika kita saling menghujat
dan mencaci maki karena memiliki latar belakang yang berbeda. Hal semacam ini
tidak hanya terjadi di intern Islam itu
sendiri, akan tetapi kadang juga dilontarkan bagi mereka yang
jelas-jelas agamnya berbeda. Kita perlu melihat dakwah Rasul yang dilakukan
oleh beliau ketika berada di Makkah dan Madinah. Beliau menjunjung tinggi nilai perbedaan dengan
orang Yahudi selama ia tidak menganggu kaum Muslimin. Rasulullah senantiasa
men
jaga toleransi dengan semua kaum meskipun ia memiliki latar belakang yang
berbeda dengan dirinya. Itulah sebenarnya esensi nilai-nilai ke-Tuhan-an yang
perlu kita hadirkan dalam diri kita, dengan tujuan menjadikan diri kita insan
yang bisa memberikan rahmat bagi seluruh alam.Kamis, 04 September 2014
Tuhan Membusuk
Oleh: Libasut
Taqwa[1]
Telepon genggam
saya bergetar beberapa saat di tengah seriusnya saya menyerap pelajaran bahasa
Inggris di kelas. Karena penasaran, saya pun mengeceknya sembari mendengar
tutor melanjutkan penjelasan. Setelah saya cek, ternyata pesan singkat SMS (Short Message Servis) dari salah seorang
teman lama yang cukup membuat saya terkejut. Pesan singkat itu terbaca “waduh,
bagaimana maksudnya ospek “Tuhan Membusuk” ini?’’, saya tersenyum kecut,
karena tak ingin terlibat debat elektronik yang pastinya membosankan, saya
jawab saja seadanya, “Tuhan tidak bisa membusuk walaupun kita berkata Tuhan
busuk.”
Seusai kelas
saya bergegas menuju warnet yang tak jauh dari tempat saya belajar. Pikiran
saya, saya harus menulis sesuatu tentang ini; bukan untuk membenarkan,
menjustifikasi, apalagi untuk mengakui bahwa saya lah pelakunya. Tapi
setidaknya sebagai tanggung jawab almamater UIN Sunan Ampel yang dirasa berat
memenuhi pundak saya. Tak ada juga niat saya untuk menantang umat muslim
yang-setelah “heboh” membaca tema OSCAAR ini, merasa terganggu, atau risih,
atau geram, atau mungkin dengan berbagai ekspresi penyangkalan tak suka
lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
